You are currently viewing Bimbingan Konseling Keluarga: Memahami Remaja dari Lingkungan Keluarga #1

Bimbingan Konseling Keluarga: Memahami Remaja dari Lingkungan Keluarga #1

  • Post author:
  • Post category:Kegiatan

Kajian mengenai Bimbingan Konseling Keluarga yang disampaikan oleh Prof. Dr. Dodi Hartanto, M.Pd. memberikan pemahaman yang menarik tentang perkembangan anak dan remaja serta pentingnya peran keluarga dalam proses tersebut. Salah satu gagasan utama yang saya tangkap dari kajian ini adalah bahwa permasalahan yang muncul pada anak atau remaja tidak selalu dapat dilihat hanya dari perilaku anak. Banyak persoalan yang berkaitan dengan kondisi keluarga, pola pengasuhan, komunikasi, serta lingkungan sosial tempat anak tumbuh. Karena itu, ketika seorang anak menunjukkan perubahan perilaku, orang dewasa perlu melihat persoalan secara lebih utuh, bukan langsung memberikan label bahwa anak tersebut nakal, malas, atau tidak disiplin.

Masa remaja merupakan masa yang penuh perubahan. Ketika memasuki pubertas, anak dapat mengalami kebingungan dalam memahami dirinya sendiri. Kekuatan dan dorongan dalam dirinya semakin besar, sementara kemampuan untuk mengendalikan dan mempertimbangkan konsekuensi masih terus berkembang. Perubahan juga dapat terlihat pada siklus tidur serta lingkungan pergaulan. Dunia sosial remaja semakin luas dan pengaruh teman sebaya, sekolah, komunitas, maupun dunia digital menjadi semakin kuat.

Salah satu gambaran yang menarik untuk memahami remaja adalah ungkapan “gas lebih dulu, rem menyusul”. Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa dorongan untuk melakukan sesuatu pada remaja terkadang muncul lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk mempertimbangkan risiko dan konsekuensinya. Remaja memiliki rasa ingin tahu dan keberanian untuk mencoba berbagai hal, tetapi kemampuan pengendalian diri masih berkembang. Oleh sebab itu, menghadapi remaja tidak cukup hanya dengan memberikan larangan. Mereka perlu dibantu untuk belajar mengambil keputusan, memahami konsekuensi, dan mengelola dorongan yang muncul dalam dirinya.

Pemahaman mengenai kondisi remaja tersebut juga berkaitan erat dengan cara orang tua dan guru berkomunikasi. Cara menyampaikan pesan sama pentingnya dengan isi pesan. Nada bicara, gesture, ekspresi, serta posisi ketika berbicara dapat memengaruhi bagaimana pesan diterima oleh anak. Karena itu, sebelum mengajak anak membicarakan persoalan yang serius, orang dewasa perlu memperhatikan kondisi anak. Komunikasi akan lebih mudah dilakukan ketika anak berada dalam keadaan nyaman dan kebutuhan dasarnya telah terpenuhi. Prinsip sederhananya adalah memilih waktu yang tepat sebelum menyampaikan pesan yang penting.

Dalam kajian juga dibahas mengenai dunia digital yang saat ini menjadi bagian dari kehidupan remaja. Anak-anak sekolah, termasuk mereka yang menjalani sistem full day school, dapat menjadikan gawai sebagai sarana hiburan setelah menjalani aktivitas belajar yang cukup padat. Short video, game online, dan berbagai bentuk hiburan digital dapat memberikan rangsangan yang cepat dan menyenangkan. Kondisi tersebut sering dikaitkan dengan istilah dopamine booster, yaitu aktivitas yang memberikan sensasi menyenangkan sehingga seseorang terdorong untuk mengulanginya.

Namun, muncul pertanyaan penting: apakah gawai merupakan penyebab utama berbagai permasalahan pada anak? Jawabannya tidak sesederhana itu. Dalam kajian disampaikan bahwa persoalan tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan para pakar. Gawai tidak selalu dapat dianggap sebagai satu-satunya penyebab. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana gawai digunakan, kapan digunakan, berapa lama penggunaannya, untuk tujuan apa, serta bagaimana kondisi keluarga dan lingkungan sosial anak. Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar apakah anak menggunakan gawai atau tidak, tetapi bagaimana membangun kebiasaan digital yang sehat dan seimbang.

By: Nizar Aziz Prasetyo, S.Pd., Gr.