You are currently viewing Bukan Kuli Biasa

Bukan Kuli Biasa

 “Dur, bangun. Sudah hampir jam 7 ini. Kamu tidak berangkat ke sekolah?” Bu Laila membangunkan putranya yang tidur lagi setelah shalat Shubuh tadi.

“Kamu sakit? Kalau sakit segera bangun lalu periksa ke dokter. Bukannya kamu harus berangkat ke sekolah hari ini? Memangnya kamu sudah izin tidak berangkat?” Bu Laila terus menerus mencoba membangunkan putranya.

Sejak kemarin, Bu Laila melihat putranya lesu sepulang dari sekolah tempat dia mengajar. Abdur. Abdurrahman, S.Pd, seorang sarjana yang baru saja lulus dan mendapatkan amanah untuk mendidik anak-anak di sebuah sekolah swasta.

Abdur bukannya bangun. Dia tidak bergeming sedikitpun. Terlelap tidak, terjaga juga tidak. Hanya sesekali menggerakkan kaki, berguling dari sisi kanan ke kiri. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Bu Laila pun meninggalkannya. Dia tahu. Ada masalah yang mengganggu putranya.

***

Kemarin Abdur mengajar kelas 10-A. Kebetulan dia mengampu mapel PAI sesuai dengan bidangnya. 

Hari itu bertepatan dengan ultah salah satu murid kelas 10-A. Entah ide siapa, di tengah pelajaran, saat Abdur sedang serius menjelaskan, tiba-tiba saja ada yang menyalakan konfeti, berlarian, bersorak, menyanyi, merayakan ultah teman mereka membuat kelas menjadi sangat riuh. Abdur berusaha menenangkan kelas. Memanggil beberapa nama murid, namun tak ada yang menghiraukannya.

Merasa tak ada yang menghiraukannya, Abdur menarik salah satu murid biang keributan. Aldo. Salah satu murid yang di mata para guru seperti berandalan, susah untuk diatur. Semua aturan dilanggarnya. Seperti Dilan atau Ari.

“Cukup Aldo. Hentikan keributan ini. Mengapa kamu membuat kerusuhan di waktu pelajaran Bapak? Apakah karena kamu tak suka pelajaran Bapak? Suruh teman-temanmu untuk kembali ke tempat duduknya! Semua harap kembali ke tempat duduknya masing-masing!” Seru Abdur mengingatkan murid-muridnya.

“Bapak pikir, Bapak itu siapa.” Aldo bukannya menurut diingatkan oleh gurunya. “Bapak tahu kan, kalau Bapak itu digaji oleh orangtua kami. Bapak lebih baik pulang saja kalau tidak suka dengan kelakuan kami. Atau Bapak mau kami pidanakan karena telah mengganggu privasi kami?” Ancam Aldo.

Abdur sebenarnya ingin melayangkan tinjunya ke wajah murid kurang ajar itu. Namun, dia sadar, dia berpikir jernih, memilih untuk tidak melanjutkan pertengkaran dengan muridnya. Tidak ada untungnya bertengkar dengan muridnya sendiri. Bukan karena takut dipecat. Dia menjaga martabatnya sebagai seorang guru.

Dia pun segera mengemasi barangnya dan meninggalkan murid-muridnya yang terus asik melanjutkan pesta perayaan mereka.

***

Setelah seharian di rumah saja, Abdur memilih untuk keluar rumah. Mencari angin segar yang dapat mengembalikan semangatnya.

Pesan dari Kepala Sekolah yang menanyakan alasan dia tidak masuk sekolah dia jawab singkat. Mohon maaf, baru tidak enak badan. Sesingkat itu.

Dengan mengendarai motornya, Abdur menuju tempat biasa dia nongkrong, mencari angin segar. Segera dia memesan menu favoritnya. Kopi susu joss dan kentang goreng. Tempat duduk pun dia punya meja kursi favorit juga. Sembari menyeruput wedangannya, dia menarik nafas dalam-dalam, lalu perlahan menghembuskannya. Serasa melepaskan beban yang sangat berat, yang mengganjal dalam dada.

“Sendirian aja, Dur.” Sebuah sapaan membuyarkan lamunannya. Ternyata Cipto. Tetangganya yang bekerja dalam sebuah proyek. Bukan apa-apa. Hanya seorang kuli bangunan. Namun, mampu menyulap rumah gubuknya menjadi seperti istana.

“Ah, kamu mengagetkanku saja, Cip.” Abdur berusaha bersikap sewajar mungkin. “Tumben kamu tidak lembur seperti biasa?” Mencoba membuka percakapan.

“Siapa bilang? Ini saja aku baru pulang.” Sanggah Cipto.

“Cip, kulihat rumah kamu makin megah saja. Kendaraanmu pun setiap bulan berganti-ganti. Ada yang membuatku penasaran. Boleh aku tanya sesuatu?” Kata Abdur sembari tersenyum menyelidik.

“Ah, Kawan. Tanyakan saja. Asal jangan macam-macam.” Jawab Cipto santai seraya tersenyum.

“Sungguh? Oke. Kalau boleh kutahu, berapa sih pendapatan sebagai kuli bangunan hingga kau tampak seperti orang yang punya?”

“Menjadi seorang guru saja, aku merasa tidak cocok dengan pendapatanku. Bayangkan saja. Memang aku tidak bekerja keras, membanting tulang, memeras keringat sepertimu, namun setiap hari aku harus menghadapi banyak orang dengan berbagai karakter. Harus pandai-pandai mengelola hati. Apalagi saat kita berhadapan dengan orang yang kurang kita senangi. Entah itu sesama guru, karyawan, murid, wali murid, dan lainnya. Namun, aku tak bisa menjadi sepertimu.” Abdur mulai mengeluarkan sedikit banyak rasa kesalnya.

Bukan Cipto namanya bila tidak mampu membaca perasaan temannya.

“Oh, ini yang membuat kamu tampak uring-uringan.” Senyum Cipto. “Kamu sudah bosan dengan profesimu? Merasa kurang dengan gaji yang kamu dapatkan?” Kelakar Cipto.

“Bukannya bosan. Aku hanya ingin beristirahat dan mencoba pekerjaan yang lain. Mungkin aku bisa menggantikanmu menjadi kuli bangunan.” Elak Abdur.

“He he, memangnya bisa?” Kekeh Cipto. “Kalau boleh memilih pun, aku juga ingin bertukar profesi denganmu, Dur.”

Abdur mengernyitkan dahi, tidak paham. Bukannya nasib temannya lebih baik dari dirinya.

“Namun apalah diriku, hanya seorang lulusan SMK. Bukannya tidak bersyukur. Minimal sarjana lah kalau ingin menjadi guru.” Sambung Cipto.

“Oi. Kamu nyindir aku. Aku juga bersyukur.” Seru Abdur tidak terima.

Wkwk. Cipto terkekeh melihat reaksi Abdur.

“Aku paham maksudmu, Dur. Menjadi guru memang tidaklah mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Untuk itu, salah satu syaratnya, minimal dia seorang sarjana yang sudah sedikit banyak menekuni dunia pendidikan.”

“Begitu juga dengan banyak tantangan yang harus kamu hadapi. Bagaimana berinteraksi dengan orang-orang yang tentu berbeda denganmu. Bagaimana menghadapi murid-murid yang sangat susah diberi nasehat. Belum lagi, guru adalah profesi yang sering direndahkan, tidak dihargai. Gajinya tidak cukup untuk membiayai hidupnya. Sehingga terkadang harus pinjol. Apalagi bila masih guru honorer. Sangat tidak sebanding.”

Abdur diam sambil menyeruput minumannya. Entah diam mendengarkan atau melamun.

“Tapi, ketahuilah, Kawan. Jangan fokus dengan kesulitan yang kamu hadapi. Lihatlah sisi baiknya. Guru adalah profesi yang mulia. Dengan menjadi guru, kamu dapat menularkan kebaikan, menyampaikan ilmu yang telah kamu dapatkan, bertemu banyak orang yang menjadi kenalan kamu.”

“Ingatlah juga, bahwa masih banyak orang yang rezekinya tidak sebaik para guru. Banyak orang bekerja di luar, berpanas-panas demi sesuap nasi untuk dia dan keluarganya. Berapa gaji seorang buruh, tukang koran, penjual jajanan yang sering ada di lampu merah. Mereka tidak pernah merasakan enaknya duduk santai di ruangan ber-AC. Tidak ada tunjangan-tunjangan yang mereka dapatkan seperti yang kamu dapat setiap bulan.”

“Jangan lupa dengan pepatah-pepatah yang kita miliki. Bahwa dunia itu wang sinawang. Lain ladang lain belalang. Masing-masing berjuang pada bidangnya. Eh, kenapa aku jadi banyak bicara begini?” Cipto jadi salah tingkah serasa menggurui temannya yang seorang guru. Dia segera meminum kopinya sebelum menjadi dingin.

“Nggak kok. Yang kamu katakan ada benarnya juga. Mungkin aku memang kurang bersyukur. Terlalu jauh memandang ke depan, sehingga banyak hal kecil yang terabaikan. Tapi serius, banyak guru yang pinjol?!” Abdur penasaran. 

“Katanya sih gitu. Yang aku lihat di postingan orang. He he. Kamu sudah bayar pesananmu? Kalau belum biar aku traktir.”

“Telat. Harusnya kamu bilang sejak tadi.” 

Abdur salut. Ada temannya yang bisa berpikir jauh seperti itu. Cipto memang pantas menjadi seorang guru, kata Abdur dalam hati.

***

“Selanjutnya. Penghargaan sebagai Guru Terbaik Tahun ini, diberikan kepada,” Seru MC acara Hari Guru Nasional. Sengaja benar dia membuat penasaran. Menggantung kalimatnya. “Bapak Abdurrahman S.Pd!”

Hari itu, Abdur kembali mengantongi predikat Guru Terbaik. Setelah sebelumnya berhasil memenuhi lemarinya dengan piala dan piagam penghargaan atas kerja kerasnya dalam mewujudkan suksesnya pendidikan.

Author: Ustadz. Abdullah Ahmad Sabiq

Selasa, 21 November 2023
Yogyakarta