You are currently viewing Stadium General: Bersinergi Mewujudkan Generasi Qur’ani Bijak Berteknologi

Stadium General: Bersinergi Mewujudkan Generasi Qur’ani Bijak Berteknologi

  • Post author:
  • Post category:Kegiatan

Yogyakarta 12 Juli 2025. SMPIT Abu Bakar Fullday School Yogyakarta mengadakan Stadium General (SG) penerimaan peserta didik baru. Acara ini dihadiri oleh orang tua dan siswa baru di dua tempat yang berbeda. Agenda dimulai pukul 07.30 baik SG siswa maupun orang tua. Adapun sambutan awal sekaligus penyerahan simbolis kepada sekolah oleh perwakilan orang tua yang disampaikan oleh Bunda Adhysti, bunda dari mas Winer. Disambut berikutnya oleh Kepala Program SMPIT Abu Bakar Fullday School Yogyakarta, ustadzah Sa’adah. Dalam sambutannya bunda Adhysti mengharapkan dukungan dan kerjasama sekolah dalam mendidikan putra-putri siswa baru untuk menjadi pribadi yang unggul. Ustadzah Sa’adah selaku kepala program, menerima amanah ini sekaligus mengajak orang tua untuk bersama-sama mendidik putra-putrinya sebaik mungkin. Agar harapan dan cita-cita orang tua dapat terwujud serta mampu memaksimalkan potensi yang dimiliki ananda.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan visi dan misi serta program kesiswaan oleh ustadzah Sa’adah secara umum. Dilanjutkan sosialisasi kurikulum oleh Waka Kurikulum SMPIT Abu Bakar Fullday School Yogyakarta, Ustadzah Arina. Kegiatan Qur’an menjadi fokus sosialisasi berikutnya. Dalam pemaparannya Ustadzah Isna menyampaikan pentingnya peran orang tua untuk tetap memotivasi dan mendampingi ananda dalam menghafal Qur’an di rumah.

Materi utama disampaikan oleh Ustadz Drs. H. Masruri tentang “Bersinergi Mewujudkan Generasi Qur’ani Bijak Berteknologi. Dalam pemaparannya  problem dalam kehidupan adalah pelanggaran kode etik.
1.Pelanggaran kode etik, Kode etik manusia adalah seperangkat aturan dan norma yang mengatur perilaku individu dalam konteks tertentu. Di zaman ini kebanyakan  manusia tidak peduli dengan kode etik sehingga pelanggaran norma seperti korupsi menjadi hal biasa. “sedikit cuilan” nampaknya sudah biasa dikalangan sosial zaman sekarang, begitupun dengan problem moralitas, sebabnya karena apa?
 karena agama sekarang hanya dijadikan pajangan, surga hanya sebatas angan-angan (tapi dilupakan setiap saat) tanpa pernah ada keinginan untuk mewujudkan angan tersebut, dan itu semua kembali kepada akar masalah yaitu orientasi “pendidikan”. Yang terjadi sekarang adalah pendidikan ditumpangi oleh lembaga industri, bahan ajaran dijadikan objek pesanan pribadi, dan itu yang kemudian perlahan masuk kedalam lingkup yang lebih privasi lagi, contoh dalam lingkungan keluarga, dan sukses ditafsirkan sebagai puncak pencapaian materi di dunia saja.

ketika pendidikan dipahami sebagai tangga menuju kesuksesan materi, maka tujuan nya bukan lagi untuk membantu sesama, akan tetapi sebagai ajang untuk saling menguasai kursi kursi tinggi, kemudian carut marut dunia ini dimulai dari orientasi pendidikan yang salah.

maka seharusnya orientasi pendidikan sejalan atau untuk menjaga fitrah seorang anak yang ter-ikat dengan “fitrah Al-Qur’an”, karena pada asal nya manusia lahir diatas fitrah ke islaman, kemudian orangtuanya yang mengubah nya kearah yang dihendaki.

Hal ini sejalan dengan sabda Nabi مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ

“Tidaklah setiap anak kecuali dia dilahirkan di atas fitrah, maka bapak ibunyalah yang menjadikan dia Yahudi, atau menjadikan dia Nasrani, atau menjadikan dia Majusi. Sebagaimana halnya hewan ternak yang dilahirkan, ia dilahirkan dalam keadaan sehat. Apakah Engkau lihat hewan itu terputus telinganya?” (HR. Bukhari no. 1358 dan Muslim no. 2658).

2. Orangtua berperan sebagai guru pertama dan utama : seorang anak menjadi tanggung jawab syar’i orangtua, dan secara psikologis terikat dengan orangtua, ketika nilai yang ditanamkan di sekolah bertentangan dengan apa yang dia dapati dirumah, akan menjadikan beban psikologis pada anak tersebut.
oleh karena itu, perlu masing-masing kita mendesain rumah kita sebagai “tempat pendidikan”, setiap detik interaksi anak dengan orangtua… adalah media pendidikan efektif, kemudia muncul pertanyaan bagaimana cara mendesain rumah tersebut? Maka kita bisa memulai “desain” tersebut dengan cara merancang program dirumah, yang terjadi kemudian adalah eumah bukan hanya sebagai “tempat kebetulan saja”, dan penting bagi orangtua  untuk peduli dan mengawasi tumbuh kembang anak…. dengan cara menanyakan apa yang dia inginkan, dan mendengarkan keluhan yang dia miliki, mendengarkan aspirasi yang coba ia sampaikan dan, tidak acuh terhadap prestasi anak  seberapapun “kecil-nya”, dan ayah menjadi tonggak utama untuk mewujudkan misi tersebut.

3. Harus menjadikan sekolah sebagai mitra, maka dari itu kita perlu untuk menentukan titik temu kompromi antara orangtua dan sekolah,dengan cara berkomunikasi yang baik dan hangat, maka karena relasi nya sebagai mitra… masing-masing pihak tidak boleh saling menutup diri, itulah yang disebut sebagai obrolan yang hangat, apa yang terjadi kepada anak disekolah dengan transparan diketahui oleh oratngtua, begitupun sebaliknya, maka dari itu seharusnya sekolah tidak menjadikan anak sebagai peselancar (yang indah dilihat pertunjukan nya, pada lenggang dunia), akan tetapi lembaga pendidikan menjadikan siswa\i sebagai pelaut yang siap menghadapi segala badai dan tahan dengan terjangan ombak.
sekolah tidak menjual “produk” orangtua pun bukan hanya sekedar “konsumen” akan tetapi masing-masing berperan sebagai pelengkap satu sama lain antara sekolah dan kehidupan dirumah.

jangan kerdilkan anak kita dengan hanya menuntut “keinginan pribadi”.

4.Usaha bukanlah hal yang mudah, setidaknya anak memiliki ancaman digital

        a.Digital distructions

        b.Information overload

        c.Gadget addiction

        d.Burn out

        e.Teacher rivalry
persaingan antara guru (privat), kita sebagai orangtua perlu memastikan komunikasi sadar terakhir anak kita adalah berbicara dengan orangtua nya, walaupun sekecil mengecup keningnya dan mengatakan “tidur yang nyenyak ya nak”.
karena kelima hal diatas saling berkesinambungan satu sama lain, peran orangtua menjadi sangat dibutuhkan dalam pengawasan anak.

Ketika anak sudah terpapar 5 ancaman digitall diatas, perlu nya orangtua untuk melakukan detoks digital berupa :

   a.etika digital

   b.kewaspadaan

   c.kemanfaatan

   d.keseimbangan

   e.pengendalian

dan pengendalian itu dimulai dari orangtuanya.

orangtua harus bergaul dengan anak betul-betul dengan mata hati, bukan dengan mata kepala, karena penglihatan mata mungkin saja menipu.

Kontributor: Ustadz Muhammad Zaky Syahiddan