Hal lain yang penting dalam pengasuhan adalah kemampuan orang tua maupun guru dalam mengelola kemarahan. Ketika sedang marah, seseorang sering kali memberikan respons secara spontan. Dalam kondisi emosi yang tinggi, kata-kata yang keluar dapat lebih keras daripada yang sebenarnya dimaksudkan. Karena itu, sebelum berbicara kepada anak, orang dewasa perlu memberikan jeda kepada dirinya sendiri. Salah satu teknik sederhana yang dicatat dalam kajian adalah mengatur napas dengan pola 3–3–6, yaitu menarik napas selama tiga hitungan, menahannya selama tiga hitungan, kemudian mengembuskannya secara perlahan selama enam hitungan. Tujuannya adalah membantu menciptakan jeda agar tubuh dan pikiran menjadi lebih tenang sebelum memberikan respons.
Selain mengatur napas, emosi juga perlu disalurkan dengan cara yang aman dan tidak menyakiti diri sendiri maupun orang lain. Setelah kondisi lebih tenang, komunikasi dengan anak dapat dilakukan. Menariknya, emosi dapat disampaikan secara lebih konkret menggunakan ukuran angka. Misalnya, daripada hanya mengatakan “Ibu sangat marah”, orang tua dapat mengatakan, “Sekarang tingkat kemarahan Ibu ada di angka delapan dari sepuluh.” Cara ini membuat emosi lebih mudah dipahami dan sekaligus mengajarkan anak bahwa emosi memiliki tingkat yang dapat dikenali dan dikelola.
Pola komunikasi lain yang dapat digunakan adalah pola IF–THEN atau “Jika–Maka”. Pola ini membantu anak memahami hubungan antara tindakan dan konsekuensi. Misalnya, “Jika kamu sudah menyelesaikan tugas, maka kamu boleh menggunakan gawai sesuai waktu yang telah disepakati.” Contoh lainnya, “Jika kamu berbicara dengan nada yang lebih tenang, maka kita bisa membicarakan masalah ini bersama-sama.” Pola tersebut lebih jelas daripada sekadar memberikan ancaman atau larangan karena anak belajar memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Tentu saja, aturan yang dibuat perlu realistis, konsisten, dan dipahami bersama.
Di tengah kehidupan yang semakin dekat dengan teknologi, kajian juga mengingatkan pentingnya kembali berinteraksi dengan lingkungan nyata. Salah satu istilah yang dicatat adalah “mandi cahaya”, yaitu meluangkan waktu berada di luar ruangan, di antara rerimbunan daun ketika matahari mulai meninggi. Secara sederhana, kegiatan ini mengajak kita untuk mendapatkan paparan cahaya alami dan menikmati lingkungan sekitar. Aktivitas sederhana seperti berjalan, duduk di bawah pepohonan, atau mengobrol bersama keluarga dapat menjadi jeda dari rutinitas digital.
Salah satu hal penting dari kajian ini adalah bahwa menghadapi anak dan remaja tidak cukup hanya dengan melihat perilakunya. Kita perlu memahami apa yang ada di balik perilaku tersebut. Ketika anak berubah, pertanyaan yang perlu muncul bukan hanya “Mengapa anak ini berubah?”, tetapi juga “Apa yang sedang terjadi dalam dirinya?” dan “Bagaimana kondisi keluarga serta lingkungan sosialnya?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu orang dewasa untuk tidak terburu-buru menghakimi.
Dalam konteks pendidikan, pemahaman ini menjadi penting karena perilaku siswa di sekolah bisa jadi merupakan bagian dari persoalan yang lebih besar. Ketika seorang siswa terlihat malas, mudah marah, tidak fokus, atau sulit mengikuti aturan, guru perlu tetap memberikan batasan yang jelas, tetapi juga berusaha memahami latar belakang perilaku tersebut. Sekolah dan keluarga memiliki peran yang saling melengkapi dalam mendampingi anak.
Pada akhirnya, pendidikan anak bukan hanya tentang memberikan pengetahuan dan aturan. Anak membutuhkan hubungan yang sehat, komunikasi yang baik, kesempatan untuk mengenali emosinya, serta lingkungan yang membuatnya merasa aman untuk bertumbuh. Remaja memang sedang berada pada fase penuh perubahan. Mereka sedang belajar mengenal diri, mengendalikan emosi, membangun hubungan sosial, dan mengambil keputusan. Dalam proses tersebut, mereka membutuhkan orang dewasa yang bukan hanya menjadi pemberi aturan, tetapi juga menjadi tempat yang aman untuk berbicara.
Kajian Bimbingan Konseling Keluarga ini memberikan pengingat bahwa keluarga merupakan salah satu lingkungan paling penting dalam perkembangan anak dan remaja. Dunia digital, perubahan masa pubertas, pergaulan, dan dinamika emosi tidak dapat dipisahkan dari proses tumbuh mereka. Karena itu, pendekatan terhadap anak perlu dilakukan dengan komunikasi yang lebih sadar, pengelolaan emosi yang baik, aturan yang jelas, serta perhatian terhadap kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual mereka. Pada akhirnya, mendidik anak adalah proses menemani mereka tumbuh. Bukan sekadar mengubah perilaku yang terlihat, tetapi memahami manusia yang sedang bertumbuh di balik perilaku tersebut. Anak tidak hanya membutuhkan orang dewasa yang mampu mengajarinya apa yang benar, tetapi juga membutuhkan orang dewasa yang mampu hadir, mendengarkan, dan memahami proses tumbuhnya.
By: Nizar Aziz Prasetyo, S.Pd., Gr.
