Bertukar Peran Menjadi Manajer Rumah Tangga

Bertukar Peran Menjadi Manajer Rumah Tangga

  • Post author:
  • Post category:Artikel

Hari ini adalah hari spesialnya para ibu. Walaupun setiap hari adalah hari ibu, namun tanggal 22 Desember telah disepakati sebagai momentum spesial yang dipersembahkan untuk para ibu atas dedikasinya menjadi manajer rumah tangga. Sebuah peran yang tak mudah, namun harus dilakukan berkolaborasi dengan sang ayah, demi terciptanya tata kelola rumah tangga yang baik.

Peran yang tak ada sekolah dan gelar formalnya ini memiliki kenangan tersendiri bagi ustazah Nurika, guru SMPIT Abu Bakar Fullday School. Ustazah Nurika berbagi pengalamannya ketika bertukar peran dengan ibundanya pada Agustus 2019 lalu. Bersama dengan adiknya yang menggantikan peran sang ayah, mereka berdua berkolaborasi sekitar satu minggu mengelola pekerjaan rumah tangga.

“Tanggal 24 Agustus 2019 itu kan kakak sepupu saya yang tinggal di Kalimantan melangsungkan resepsi pernikahan. Ayah dan ibu saya berangkat ke Kalimantan mewakili keluarga kami di Kulonprogo. Kami tidak berangkat full team karena saya punya tanggung jawab pekerjaan, ujian tesis, dan mempersiapkan olimpiade matematika siswa. Ayah saya sudah lama ingin naik pesawat dan bagi saya ini adalah kesempatan untuk beliau,” jelas ustazah Nurika kepada tim humas, Senin (21/12).

Mulai saat itu hingga sepekan kemudian, ustazah Nurika dan adiknya berperan sebagai sosok ayah dan ibu. Ustazah Nurika mengerjakan tugas bersih-bersih rumah, memasak, mencuci pakaian kotor, merawat nenek, dan menggantikan ibu memenuhi undangan di kampung. Sementara adiknya bertugas menyirami kebun cabai setiap pagi yang biasanya dikerjakan selama kurang lebih tiga jam oleh sang ayah. Ustazah Nurika biasanya tinggal di kos saat hari kerja dan pulang ke Kulonprogo pada akhir pekan.

Pernah ketika akhir pekan saat ustazah Nurika pulang ke Kulonprogo diberondong jadwal kegiatan yang padat. Mulai dari merawat neneknya, mendampingi siswa yang mengikuti olimpiade sampai menghadiri undangan pernikahan mewakili sang ibu.

“Momen saat itu menjadi kesan tersendiri bagi saya. Karena pada saat itu terasa sekali puncak keletihannya. Sabtu saya pulang ke Kulonprogo. Besok paginya saya bersih-bersih rumah, menyiapkan makan untuk adik dan nenek, kemudian berangkat mendampingi siswa. Olimpiadenya dilaksanakan di SD Muhammadiyah Purwodiningratan Jogja. Setelah selesai mendampingi siswa, saya langsung pulang ke Kulonprogo. Baru sampai rumah saya harus takziyah ke tetangga dan saudara saya yang meninggal. Setelah itu saya menghadiri dua undangan pernikahan. Semuanya dilakukan di hari yang sama. Lelah sih iya, tetapi saya tidak boleh mengeluh,” lanjut ustazah Nurika.

Tak hanya momen kegiatan yang menumpuk di satu hari. Pada hari berikutnya saat ustazah Nurika akan berangkat kerja, adiknya mengalami demam. Suhu badannya cukup tinggi. Hati ustazah Nurika terguncang saat adiknya mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja. Air mata tak berhenti mengalir sepanjang perjalanan ustazah Nurika ke sekolah.

Kemudian ustazah Nurika menutup kisahnya dengan menitipkan pesan kepada seluruh siswa SMPIT Abu Bakar Fullday School.

“Itu baru seminggu saya merasakan peran menjadi seorang ibu. Sementara ibu saya menjalankan perannya setiap hari dengan lelah yang saya rasakan cukup membuat saya merasa tidak kuat. Tetapi ibu saya dan ibu kalian tidak pernah menyerah menjalankan perannya. Mari, kita semua berjanji untuk membuat orang tua kita tersenyum dan bahagia dengan hadirnya kita di hidupnya. Ketahuilah bahwa kebahagiaan orang tua bukan semata-mata dengan uang, tetapi dengan menghargai dan menghormati mereka. Bagi yang orang tuanya sudah tiada, kita bahagiakan mereka dengan doa-doa yang selalu kita panjatkan kepada Allah Swt. Terakhir, amal sholeh kita juga menentukan kebahagiaan orang tua kita di dunia, alam kubur, dan di akhirat kelak,” pungkas ustazah Nurika. (*)

Reportase spesial ini didedikasikan untuk para ibu yang telah menjalankan perannya dengan tulus ikhlas menjadi ibu yang hebat untuk anak-anaknya. Terima kasih telah menjadi orang tua yang hebat bersama dengan sang ayah, mendampingi putra-putrinya sekolah dari rumah. Ayah dan Ibu adalah guru terhebat di madrasah utama, keluarga.