Collaborati-ON

Kolaborasi dapat memberikan hasil yang berlipat (kuadrat) dan berkah yang melimpah ruah (+), tetapi energi yang dikeluarkan justru semakin berkurang (–). Sebagai makhluk sosial, setiap manusia pasti memerlukan orang lain. Adam pun memerlukan Hawa untuk menjadi pendamping hidupnya. Apalagi kita bukan?

Sebuah pertunjukan pentas seni orkestra yang terdapat alat musik piano, gitar, biola, seruling, dan lain-lain, akan menghasilkan pertunjukkan spektakuler jika dimainkan dengan apik dan diiringi aba-aba seorang dirigen yang mengomposisikan pemain alat musik tersebut. Bayangkan jika seorang dirigen sibuk memberikan aba-aba, tetapi tidak ada pemain alat musik yang memainkan alat musiknya. Atau, semua pemain alat musik asik memainkan musiknya sendiri-sendiri tanpa aba-aba dari dirigen. Bukankah tidak ada keharmonisan dalam pertunjukan tersebut?

Secara spiritual, Nabi Muhammad SAW sendiri secara tidak langsung juga mendorong umatnya untuk berkolaborasi. Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT berfirman, ‘Aku adalah yang ketiga dari dua hamba-Ku yang berkolaborasi, selama keduanya tidak berkhianat. Jika salah satunya berkhianat, Aku akan keluar dari keduanya dan penggantinya adalah setan.” (HR Abu Dawud)

Coba bayangkan, Allah Swt., Sang Maha Tahu pun ternyata juga ikut berperan serta saat kita melakukan kolaborasi. Akan tetapi Dia akan pergi jika salah satu atau lebih orang yang terlibat dalam kolaborasi tersebut ternyata berkhianat. Naudzubillah min dzalik. Maka janganlah sekali-kali berkhianat agar Allah tetap ada dalam kolaborasi.

Tiga Saringan

Bagaimana cara agar kolaborasi tersebut dapat bertahan dan selalu terpelihara rasa harmonis di dalamnya?

1. Prioritaskan Allah

Pastikan bahwa Allah mencintai kolaborasi atau kerja sama yang kita lakukan. Kita perlu memperhatikan kehalalan dan keharaman dari kolaborasi yang kita lakukan. Selalu libatkan Allah dalam setiap aktivitas kolaborasi. Jangan sampai kita melakukan kolaborasi yang haram, karena Sang Maha Kuasa memiliki hukum alam yang bekerja sempurna. 

Apabila kolaborasi tersebut sudah jelas keharamannya, tidak perlu pikir panjang, langsung tinggalkan. Misalnya untuk apa hidup kaya raya jika dihasilkan dari kolaborasi dengan pemasok dan pengedar narkoba. Buat apa kaya raya di dunia tapi di neraka mendapat siksa. Kolaborasi yang haram hanya akan merusak bumi dan diri.

2. 3 TIF

Ada kisah seorang lelaki yang bekerja di dunia perbankan. Dia bercerita bahwa hidupnya berantakan dan penuh dengan energi negatif. Apabila ada yang rajin dan semangat beribadah malah diejek. Hidupnya terasa sempit bahkan membuatnya nyaris bunuh diri. Namun niatan itu diurungkan karena tiba-tiba mendapatkan pesan singkat yang positif dari temannya melalui HP-nya. Setelah kejadian itu, ia bertekad untuk resign dan mencari teman dengan lingkungan yang positif serta mulai belajar bisnis. Awalnya ia malu karena merasa kotor dan penuh noda. Tapi dia berkomitmen untuk berada di lingkungan positif. Penghasilan yang didapatkan memang tidak sebesar yang pernah diterima, namun ia yakin perlahan tapi pasti financialnya akan membaik dan tumbuh melesat. Ketenangan hati pun juga didapat.

Lingkungan memang sangat menentukan. Jika kita berada di lingkungan yang negatif maka akan menjadikan hidupnya semakin sempit, tetapi jika kita berada di lingkungan yang positif hidup akan lebih produktifdan kontributif.

3. Timbal Balik

Setelah dua saringan terpenuhi, maka jangan tinggalkan saringan yang ketiga. Apakah hukum timbal balik itu ada dalam kolaborasi? Apakah simbiosis mutualisme itu hadir dalam kolaborasi? 

Jangan sampai kita tidak bisa mengambil manfaat yang menguntungkan untuk diri kita sendiri dari kolaborasi tersebut. Manfaat yang diperoleh tidak hanya berupa yang tampak, uang, atau yang bersifat lahiriah, tetapi juga yang tidak tampak, nama baik, menjadi lebih memahami ilmu, dan lain-lain yang membuat lebih saling menguatkan. Dalam kolaborasi, kedua belah pihak harus bisa saling memberikan timbal balik. 

Jika salah satu tidak memberikan timbal balik, kontribusi, dan kolaborasi, maka akan memberikan kekecewaan kepada pihak lain. Jangan sering membuat orang lain kecewa, nanti dikecewakan rasakan sendiri akibatnya. Jadi, pastikan dalam sebuah kolaborasi itu setiap anggota selalu berusaha memberikan timbal balik agar semua pihak yang ada dalam kolaborasi dapat merasakan manfaat yang luar biasa besar dari kolaborasi itu.

Dikutip dari buku Jamil Azzaini tentang Leadership Series yang berjudul “ON: Move Yourself” oleh NM.

Leave a Reply