Budaya literasi adalah budaya yang mendorong minat dan kebiasaan membaca, menulis, serta mengolah informasi secara kritis. Dahulu, literasi umumnya dikaitkan dengan buku, koran, atau media cetak lainnya. Namun, seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, definisi literasi semakin meluas.
Dengan adanya teknologi, masyarakat menjadi lebih mudah dalam mencari informasi. Di sisi lain, kemudahan ini juga mempunyai kekurangan, salah satunya adalah penyebaran informasi palsu yang semakin tidak terkendali. Menurut data, setidaknya 30% sampai 60% orang Indonesia terpapar hoaks saat mengakses dan berkomunikasi melalui dunia maya. Sementara hanya 21% sampai 36% saja yang mampu mengenali hoaks. Hal ini membuktikan bahwa tingkat literasi di Indonesia masih tergolong rendah.
Oleh karena itu, literasi sangat diperlukan. Dengan meningkatkan budaya literasi, masyarakat dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis sehingga tidak mudah percaya pada informasi yang beredar. Selain itu, literasi memiliki banyak manfaat lain, seperti menambah wawasan dan pengetahuan, memperkaya kosakata, meningkatkan keterampilan menulis, memperkuat daya ingat, dan melatih konsentrasi.
Melihat banyaknya manfaat yang dihasilkan dari literasi, membuat upaya untuk membangun budaya literasi harus segera dilaksanakan. Membangun budaya literasi memang bukan hal yang mudah. Namun, semua bisa dimulai dari langkah kecil, yaitu membiasakan diri sendiri untuk menanamkannya. Kebiasaan itu bisa mulai dibangun dari membaca bacaan yang disukai.
Penelitian dari Universitas Islam Indonesia menunjukkan bahwa, penggunaan novel visual berbasis aplikasi android yang menggabungkan teks dan gambar dapat meningkatkan minat baca masyarakat, terutama remaja. Visualisasi ini membantu menghilangkan rasa bosan saat membaca dan memperkuat ikatan antara pembaca dengan teks sehingga minat baca menjadi lebih tinggi. Media visual interaktif seperti ini juga memungkinkan pembaca belajar secara mandiri dan lebih menarik dibandingkan hanya membaca teks biasa. Menurut penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa UII, Universitas Pelita Harapan, dan beberapa sekolah lain, hasil observasinya adalah, memang buku bergambar memberi manfaat untuk mendukung minat baca, terutama pada anak-anak sekolah dasar yang memiliki ketertarikan pada gambar-gambar yang menarik. Penggunaan buku bergambar dapat mempercepat pemahaman kosakata dan memudahkan pembaca membayangkan apa yang diceritakan, serta meningkatkan kemampuan membaca secara lebih efektif.
Namun, perlu digarisbawahi, efektivitas media ini juga tergantung pada usia dan tingkat pemahaman pembaca. Untuk anak-anak Sekolah Menengah Pertama, penggunaan buku bergambar tetap bisa efektif, asalkan disesuaikan dengan tingkat pemahaman mereka. Gambar dapat membantu menarik perhatian dan membuat bacaan lebih menarik, serta membantu pemahaman konteks. Biarpun memang terkesan lebih menarik. Alangkah baiknya, dalam membangun budaya literasi biasakan dengan buku tanpa ilustrasi, atau hanya berisikan teks saja. Tujuannya tidak lain adalah untuk lebih memahami informasi yang disampaikan pada suatu buku.
Dalam wawancara bersama Ustad Fathan, beliau menyampaikan, “Biasanya, kalau membaca buku yang ada gambarnya, seperti komik atau webtoon, memang lebih asyik ya? Tapi dari situ fokus kita terbagi menjadi dua, antara gambar dan tulisan. Jadi informasi yang kita dapatkan tidak terlalu terambil”.
Perlu diingat, setiap hal pasti punya proses, tidak perlu terburu-buru. Terkadang memaksakan hal kecil pada suatu kegiatan positif akan membawa dampak yang besar. Tidak perlu langsung membaca buku bertopik berat seperti buku-buku sastra dan politik karya Pram atau Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara, kita bisa memulai dengan buku-buku santai seperti karya Tere-Liye.
Meskipun kita memulai dari bacaan yang ringan, bukan berarti kita bisa menerima semua isinya begitu saja. Dalam dunia ini, tidak ada buku yang baik maupun buku yang buruk, semua memiliki opini dan kepercayaan masing-masing. Mengingat itu, sebelum menyerap informasi, hendaknya kita memiliki pegangan kuat atas nilai-nilai yang kita anggap baik dan benar sebagai sebuah prinsip.
